
Viral! Iran Klaim 39 Pesawat Militer AS Hancur dalam Konflik Timur Tengah
Konflik panas antara Iran dan United States kembali memicu perhatian dunia internasional. Kali ini, muncul laporan mengejutkan yang menyebut sebanyak 39 pesawat militer Amerika Serikat hancur selama perang melawan Iran.
Klaim tersebut mencuat setelah anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Ed Case, mengungkap data dalam sidang dengar pendapat bersama Pentagon. Ia menyebut laporan media pertahanan “The War Zone” menunjukkan kerugian besar yang dialami militer AS sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Menurut laporan itu, Angkatan Udara AS disebut telah menjalankan hampir 13 ribu penerbangan tempur selama operasi militer berlangsung. Dari jumlah tersebut, sebanyak 39 pesawat dilaporkan hancur dan 10 lainnya mengalami kerusakan berat.
Salah satu klaim paling mengejutkan adalah dugaan jatuhnya jet tempur siluman F-35A Lightning II milik AS akibat serangan rudal Iran. Selain itu, pesawat pengintai Boeing E-3 Sentry AWACS juga dikabarkan hancur saat serangan drone dan rudal menghantam pangkalan militer AS di Arab Saudi.
Namun hingga kini, pihak Pentagon belum memberikan konfirmasi resmi terkait jumlah kerugian tersebut. Kepala Keuangan Pentagon, Jay Hurst, hanya menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan evaluasi dan pemeriksaan penuh terhadap pesawat-pesawat yang dilaporkan rusak maupun hancur.
Di sisi lain, media pemerintah Iran juga menayangkan sejumlah video dan foto puing-puing pesawat militer AS yang diklaim ditembak jatuh dalam operasi di wilayah Iran dan Timur Tengah. Beberapa laporan bahkan menyebut helikopter Black Hawk dan pesawat angkut C-130 turut dihancurkan saat misi penyelamatan pilot tempur AS berlangsung.
Meski demikian, banyak klaim dari kedua pihak belum dapat diverifikasi secara independen. Pengamat militer menilai perang informasi atau propaganda menjadi bagian penting dalam konflik modern, terutama di kawasan Timur Tengah yang penuh ketegangan geopolitik.
Konflik antara Iran dan United States sendiri disebut telah mengguncang stabilitas kawasan, memicu lonjakan harga minyak dunia, hingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi perang regional yang lebih luas.